Asrulfaqih's Blog

Teori Perkembangan Kognitif Menurut Jean Peaget

Posted on: Juli 6, 2009

Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Sebelum membicarakan tentang teori kognitif Jean Piaget, kita perlu terlebih dahulu mengetahui beberapa konsep penting yang diutarakan oleh beliau. Antara konsep-konsep penting tersebut adalah :Skema, Asimilasi, Akomodasi dan Adapsi.

Skema merujuk kepada potensi umum yang ada dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Contohnya, sewaktu dilahirkan, bayi telah dilengkapkan dengan beberapa gerakan pantulan yang dikenali sebagai skema seperti gerakan menghisap, memandang, mencapai, merasa, memegang, serta menggerakkan tangan dan kaki. Skema yang ada pada bayi akan menentukan bagaimana bayi bertindak balas (merespon) dengan persekitarannya.

Asimilasi merupakan satu proses penyesuaian antara objek yang baru diperolehi dengan skema yang sedia ada. Proses asimilasi yang berlaku membolehkan manusia mengikuti sesuatu modifikasi skema hasil daripada pengalaman yang baru diperoleh. Contohnya, seorang anak yang baru pertama kali melihat sebiji epal. Oleh itu, anak itu akan menggunakan skema memegang (skema yang sedia ada) dan sekaligus merasanya. Sehingga dia akan mendapat pengetahuan yang baru baginya berkenaan “sebiji epal”.

Akmodasi adalah suatu proses di mana struktur kognitif mengalami perubahan. Akomodasi ini berfungsi apabila skema tidak dapat mengasimilasi (menyesuaikan) persekitaran baru yang belum lagi berada dalam perolehan kognitif kanak-kanak. Jean Piaget menganggap perubahan ini sebagai suatu proses pembelajaran. Contohnya, kanak-kanak yang berumur dua tahun yang tidak ditunjukkan magnet akan menyatukan objek baru ke dalam skemanya dan mewujudkan penyesuaian konsep terhadap magnet itu.

Sedangkan adaptasi adalah satu keadaan di mana wujud keseimbangan di antara akomodasi dan asimilasi untuk disesuaikan dengan keadaan sekitar. Keadaan keseimbangan akan wujud apabila kanak-kanak mempunyai kecenderungan sejadi untuk mencipta hubungan apa yang dipelajari dengan kehendak persekitaran.

Kembali kepada teori perkembangan kognitif yang dikembangkan oleh Piaget. Teori Piaget memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan  informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme  (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)

Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)

Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Periode sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

  1. Fase skema refleks, yaitu muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
  2. Fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. Di tahap ini pengalaman memainkan peranan yang penting untuk pembentukan tingkah laku kanak-kanak. Pengalaman boleh didapati daripada perkembangan di tahap pertama. dengan itu tingkah laku kanak-kanak pada tahap kedua ini sudah bergantung kepada pengandaian sebab musabab yang tertentu untuk mewujudkan sesuatu situasi baru. Pergerakan sistem sensori mula diselaraskan dengan sistem pandangan dan gerakan tangan. bila mendengar sesuatu bunyi, bayi akan menggerakkan kepala dan matanya ke arah punca sumber bunyi. Contohnya, sekiranya bayi tersebut melakukan sesuatu tingkah laku yang mana dapat menyenangkan dia, maka dia akan mengulangi tingkah laku itu lagi.
  3. Fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. Di tahap ini bayi mempunyai persediaan untuk membuat pandangan (penglihatan) dan pemerhatian yang lebih. Kebanyakan tingkah laku bayi dihasilkan dari suatu proses pembelajaran. Bayi telah dapat melakukan tingkah laku baru seperti mengambil sesuatu barang lalu menggerakkannya. Di waktu ini, bayi bisa membuat tanggapan tentang objek dalam tangannya. Contohnya, bayi itu sengaja memasukkan barang mainan ke dalam mulut dengan tujuan untuk mengetahui atau mengenali barang tersebut.
  4. Fase koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). Pada tahap ini, perkembangan mental bayi sudah dapat dikatakan berada di tahap perkembangan daya kognitif dan kebolehan mental asas pada bayi. Bayi sudah mengetahui sebab akibat sesuatu keadaan berlaku. Contohnya, apabila menggoncangkan sesuatu alat mainan, ia akan berbunyi.
  5. Fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. Pada ketika ini, penemuan makna baru melalui pengalaman yang dilalui oleh bayi berlaku secara aktif. hal ini, bayi memerlukan kecepatan untuk melahirkan keseluruhan rangkaian tingkah laku apabila berada di dalam sesuatu situasi baru. di tahapan  ini, bayi memperlihatkan kemajuan yang pesat berhubung dengan pemahaman sesuatu konsep dan telah mempunyai konsep yang kukuh tentang sesuatu objek.
  6. Fase awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas. Berlakunya kombinasi mental di mana kanak-kanak pada awalnya mempunyai keupayaan untuk memahami aktivitas permainan dan fungsi simbolik. Pada ketika ini, kanak-kanak dapat mengatasi masalah kaedah trial eror dan dapat membedakan jenis-jenis tingkah laku peniruan yang diperhatikan.

Tahapan praoperasional

Menurut Piaget, perkembangan yang paling penting di tahap ini ialah penggunaan bahasa. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Selain itu juga mereka menggunakan simbol di dalam permainan, contohnya Mengumpamakan buku sebagai mobil yang didorong di atas lantai. Namun begitu, dari segi kualitas, pemikiran kanak-kanak masih di tahap yang rendah berbanding dengan orang dewasa. Contohnya, pemikiran kanak-kanak adalah egosentrik di mana, di dunia ini, keseluruhannya dilihat hanya dari perspektif mereka saja.

Piaget juga mengatakan bahawa proses perkembangan kognitif kanak-kanak menjadi lebih sempurna menerusi tiga kebolehan asas yang berlaku iaitu :

  1. Perkembangan kebolehan mental kanak-kanak untuk melakukan tingkah laku yang ketara seperti kebolehan mengira.
  2. Melalui latihan yang diulang-ulang, rangkaian tingkah laku yang dikukuhkan dan digeneralisasikan sehingga menjadi skema tingkah laku yang stabil.
  3. Hal-hal umum yang betul-betul difahami oleh individu bagi mewujudkan sesuatu pengukuhan tingkah laku.

Selain itu, Piaget juga mengatakan bahawa operasi yang berlaku mesti berasaskan pada tiga fenomena mental yang penting iaitu pengamatan, ingatan dan bayangan. Pengamatan merupakan suatu proses di mana kanak-kanak memberikan sepenuh perhatian terhadap sesuatu yang dilihat. Sementara, ingatan pula ialah satu proses pembinaan, pengumpulan dan pengambilan kembali memori mengenai peristiwa lalu. Sedangkan, bayangan merupakan satu proses yang menyebabkan sensasi yang statik, yang mana pandangan dan pendengaran selalu dikumpulkan di bagian mental.

Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.

Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal

Pada tahap ini Piaget menyatakan bahawa perkembangan kecerdasan kognitif manusia telah sampai ke tahap maksima. Tahap ini melibatkan umur sebelas hingga lima belas tahun. Pemikiran dan penghuraian pendapat individu pada tahap ini dikatakan lebih baik dan nyata. mereka dikatakan mampu membuat keputusan dan telah dapat membuat hipotesis melalui pemerhatian. Individu telah mula mencari jalan untuk menyelesaikan masalah berdasarkan rasional dan lebih bersifat sistematik. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologi, kognitif, penalaran moral , perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Piaget menyatakan kaum remaja pada tahap ini didapati patuh dan berhati-hati dengan pendapat dan pegangan. Mereka mula memikirkan tentang diri mereka dan peranan mereka dalam masyarakat. Di samping itu, mereka telah membuat perancangan berdasarkan pegangan dan pendapat yang difikirkan sesuatu dengan nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat.

Bjorklund, D.F. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. 3rd ed. Bellmont, CA : Wadsworth

Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.

Johnson, M.H. (2005). Developmental cognitive neuroscience. 2nd ed. Oxford : Blacwell publishing

Piaget, J. (1954). “The construction of reality in the child”. New York: Basic Books.

Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.

Piaget, J. (1983). “Piaget’s theory”. In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.

Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.

Piaget, J. (2000). “Commentary on Vygotsky”. New Ideas in Psychology, 18, 241–259.

Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.

Seifer, Calvin “Educational Psychology

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: